Kepada lampu taman yangg bewarna kuning yang terbunuh sepi diantara riak bambu-bambu muda. Halaman batako lenggang ditumbuhi rumput liar malu-malu.
Denging kaper kesepian disahut dengan harmoni air jatuh dari selokan penduduk. Berjejer sawit yang tak pernah berbuah karena iklim yang patah.
Kerlip lampu kecil melilit batang pace semakin kecil dari kejauhan. Bulan masih sungguh dominan ternyata. Apakah kamu tahu aku ada dimana?
Jelas aja kamu tak tahu. Toh aku tak pernah tau kamu siapa. Tapi apakah kamu percaya ada bahasa yang tak butuh suara. Ada kata yang tak butuh aksara?
Kurapikan benak untuk menyambutmu di sini. Di sebuah suwung yang bahagia. Di satu sepi bulan yang menggairahkan. Tak penting kamu tau atau tidak
Kita akan bercinta dalam diam. Berbaur dengan bau tanah dan wangi rumput-rumput basah. Disaksikan sawit dan bambu sunyi. Segera..
Malam ini aku akan mengenalmu. Karena segera kita akan brcinta. Rapikan rambutmu, biar bisa kuacak-acak lagi. Ku tunggu di bawah lampu di bawah pace.

