Parahyangan

Standar

Ini adalah perjalanan pertamaku ke Bandung. Tanah Parahyangan yang dijaga Tangkuban Perahu dilindungi Gunung Salak. Bersama seorang kawan.

Perjalanan tanpa rencana matang. Ala kadarnya, berbekal tekad, mimpi dan ingin. Menuju Bandung. Menuju dingin lembut yg cantik.

Bersama Kahuripan aku arungi malam itu. Lantun basmalah. Semoga Kiara Condong tidak menyambut kami dengan badai.

Cerah tak berdusta mencium Bandung paginya. Menyempatkan waktu di Warteg sebelum kemudian tertipu sopir angkot jurusan Leuwi Panjang.

Bertemu kembar ayu dengan harap satu bis Damri menuju Dago. Dago, dimana kami gantungkan harap malam-malam yang nyaman.

Menanti temannya kawan perjalanan di belakang ITB. Dimana iman matamu diuji disana. Segelas kopi susu dan sekresek tempe jadi sahabat.

Teman itu tak pernah datang siang itu. Digantikan dua wanita, kawan lama, datang tak terduga. Menjadi kawan asyik, menikmati Bandung.

Mereka, dua mahasiswa Unikom, menjadi oase diantara keputusasaan kami. Menjadi air dalam gersang siang-siang. Mereka malaikat Bandung.

Kami jelajahi Gasibu sorenya. Mendekap FE Unpad dalam doa magrib. Dinner di Black Romantic dan jalan kaki menyusuri Dipati Ukur.

Menjelang tengah malam, masih belum jelas dimana aku sandarkan kepala ini menanti esok pagi. McD simpang Dago jadi teman hingga larut.

Sampai ku langkahkan kaki ini 1,5km menuju asrama Turki. Tempat teman kawan seperjalananku beristirahat. Angkot sudah sepi. Tubagus Ismail.

Jumpa esoknya, Kawah Putih menyapa. Perjalanan absurd dengan peta manual buatan tangan, kami memilih lewat Cimahi menuju Ciwedeuy.

Empat manusia buta Bandung. Menjadi sebuah ingatan manis bahwa kamu tak perlu benar-benar siap buat sekedar memulai sebuah perjalanan.

Last day, menjelajah Pasar Baru Bandung, usaha menggenapi mimpi masa depan. Ada begitu banyak gelitik cita yg perlu diwujudkan. Semoga.

Aku genapi Bandung. Kota dengan air dingin. Dengan pesona cantik pegunungan. Tidak akan pernah bosan mengunjunginya.

Maka kisah ini, disembahkan dengan penuh terima kasih kepada@habibonggΒ @shintaa93Β @fataΒ @peyekΒ :))

Ini adalah kisah. Pertama kali aku menjejakkan kaki di Tanah Parahyangan yang dijaga Tangkuban Perahu dan dilindungi Gunung Salak. Bandung.

 

NB:Β Ditulis diatas kereta Mutiara Selatan menuju Madiun, kampung halaman.πŸ™‚

One thought on “Parahyangan

  1. Pada awalnya, perjalanan menuju Gunung Tangkuban Perahu menggunakan jalan setapak melewati perkebunan kina dan teh Djaja Giri (Jayagiri), yang menghabiskan waktu kurang lebih 3 jam. Apabila menggunakan kuda, dapat menggunakan jalan militer Sukawana. Namun karena medan yang cukup sulit untuk dilalui kendaraan bermotor, maka dibuatlah jalur lain tahun 1924. Pembuatan jalan ini diprakarsai oleh Mr. H.W. Hoogland, presiden dari β€œBandoeng Vooruit” . Organisasi ini berhasil mengumpulkan 25 ribu Gulden untuk pembuatan jalan tersebut. Jalan inilah yang digunakan oleh Bus rombongan peserta Geotrek III untuk menuju lokasi acara.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s