Semesta, salam untuk dia.

Standar

Menjadi seorang lelaki yang tidak mempunyai bargaining position yang kuat dalam soal memulai hubungan perempuan-lelaki adalah sebuah Β hipotesa kuat yang menyatakan bahwa hasil akhirnya akan nihil dan usahanya pasti sia-sia (kecuali sebuah pengalaman, saja).

Semua diawali dari sebuah pertemuan singkat (lebih tepat super sangat singkat) di lantai 3 di sebuah kampus di Yogyakarta. Pertemuan itu yang membawa saya mengetik sebuah message singkat di facebook. Saya memperkenalkan diri dan mencoba berkenalan. Tapi.. nol. β€œYawislah..”, pikir saya.

Sampai ternyata semesta benar-benar mempertemukan kami lagi dalam sebuah komunitas. Is it an accidental?

Saya memulai lagi apa yang telah di-nol-kan sama dia.

β€œDia disini adalah seorang perempuan. Cantik, kurus, jalannya cepat, ngomongnya juga cepat. She’s look smarter than others. Berpacar. Dan saya memang kagum.”

Mungkin karena memang posisi saya sebagai partner kerja. Short message service yang saya kirim sering mendapat balasan. Entah itu balasan dalam satu kata, satu kalimat atau kadang juga 160 karakter sms dihabiskan. Entah juga itu dibalas dengan senang hati atau dengan segan hati. I don’t have the answer.

Ada beberapa bagian menarik yang mengendap manis di dasar perasaan saya. Ada hari dimana tanpa sebuah janji, warna baju kami sama. Atau pada sebuah malam, dari seutas senar gitar yang putus saya beri dia sebuah cincin abal-abal tapi dia tetap memakainya. Atau tatapan khawatirnya ketika wajah saya pucat sehabis muntah-muntah.

Tapi pada hari yang saya lupa kapan. Cerita-cerita manis tadi menjadi nol lagi. Kali ini saya merasa saya adalah pelaku penge-nol-an. Foolish me. Saya tahu dia berpacar dan saya mengusiknya.

Walaupun sekarang wajahnya selalu jutek ketika bertemu. Walaupun sekarang tidak ada message lagi. Tidak ada lagi tentangnya sebelum tidur. Saya masih kagum. Kagum adalah perasaan cinta yg paling minimalis. Saya berusaha untuk meminimaliskan cinta saya ini.

Tulisan ini hanya sebatas menifestasi dari sekelumit tidak bisa tidur saya, segenggam kebingungan saya, sebungkus ke-kagok-an saya dan juga sebuah doa atas sebuah harapan saya..

semoga kelak, semesta akan kembali bekerja sama mempertemukan saya dengan dia dalam sebuah situasi yang lebih nyaman.

sampaikan salam saya untuknya ya, Semesta..

2 thoughts on “Semesta, salam untuk dia.

  1. Baru tadi malem aku dapet sms dari seorang teman “Teori paling dasar dari cinta adalah dengan mengagumi” persis kayak katamu gas bahwa kagum adalah perasaan cinta yg paling minimalis. Tapi orang yang sedang mengagumi apa berarti sedang dia jatuh cinta juga? PR ya gas buat kamu..πŸ™‚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s