Just Field Report Biasa

Standar

ini diterbitkan di KasKus di Longue Forum Book ReviewπŸ˜€

kalau ingin asyik bacanya (ada emotion KasKus) klik disini –>> klik!

————————-

Field Report ini ane persembahkan untuk kawan-kawan Serapium pada umumnya dan kawan-kawan Serapers Surabaya pada khususnya yang tetep semangat walaupun memang kekurangan personel :hammer:

Surabaya siang itu memang panas :sun: tapi tak sampai membuat badan atletis ane keringetan. Mungkin ane pas lahir langsung kecemplung ke panic deodorant kali ya :hammer:

Ane baru saja menginjakkan kaki di Surabaya tepat jam 12 siang dari Madiun. Sedangkan jadwal gathering jam 3 sore padahal ane masih belum tahu, dimana tempat gathering dan bagaimana cara ane bisa sampai ke tempat gath-nya :hammer: Jam 1 siang lebih 27 menit ane berangkat dari rumah sodara ane di daerah Perak Barat naik bus kota menuju ke Delta Plaza deket Balai Pemuda. Sengaja ane berangkat lebih awal biar kalau nanti ane tersesat ane masih bisa on time nyampe TKPπŸ˜€ kebiasaan on time sih😎

Beruntung bis kota yang saya tumpangi adalah bis kota ber-AC. Karena ada bis kota yang kumuh dan panasnya bikin L dengan tanya kanan-kiri sesama penumpang dan belagak bego di samping supir, akhirnya ane berhasil tidak tersesat nyampe di TKP gath, Delta Plaza Surabaya. Karena tidak tersesat itulah, jadinya ane datang lebih awal daripada yang lainnya. Dari jadwal jam 3 sore, ane sudah ready 45 menit lebih awal :hammer:

Berniat membunuh bosan menunggu, ane jalan muterin itu plaza. Siapa tahu ane ketemu IGO :genit: kan ane jomblo ganteng😎 eh, baru setengah jalan kaki ane udah berasa mau copot. Kelamaan berdiri di bis kali :hammer: akhirnya ane memutuskan untuk duduk di pojokan tiang, depan escalator dan tepat berada di depan gerai pakaian dalam wanita :hammer:

Pertamanya nyante aja sih, lama kelamaan, mbak-mbak SPGnya kok jadi ngelihatin ane. Di tengah kesibukannya melayani cewe-cewe pencari pakaian dalam :hammer: dia nyuri pandang gitu :takuts takut dikira maniak pakaian dalam wanita, ane kabur dah dari situ walaupun kaki masih cenat-cenut. Ane ke gramed. Duduk baca, tenang sambil sms-in yang lain udah pada datang apa belum.

Koh Amin a.k.a Metalisheard katanya bakalan telat karena naek angkot dari sidoarjo :hammer: Mbak Chusnul a.k.a alietha juga telat karena ngambil sepeda motor dulu :hammer: well, semakin lama ane menunggu mereka ini :linux2:

Singkat cerita akhirnya ane ditemuin Mbak Chusnul di gramed dan menuju ke foodcourt, katanya udah pada ngumpul. Bayangan ane, bakalan rame nih, karena di pebuk Serapium yang di summon banyak bener. Eh, ternyata yang ane temuin sama Mba Chusnul Cuma Koh Amin sama Om Rendy a.k.a Xynder :hammer: Gathering Serapium Surabaya kali ini cuma empat orangg! :nohope:

Sebelum memulai percakapan, ane pesen bakso dulu deh. Laper kan setelah berdiri lama di bis, jalan-jalan muter mall sampe takut dikira maniak pakian dalam :hammer: sambil nunggu itu bakso dateng, Om Rendy ngeluarin bukunya, bahasa English :hammer: judulnya apa sih? Lupa, pokoknya intinya mirip primbon jawa. Koh Amin dengan enteng bilang kalau itu primbon bule :nohope: ane baca-baca tuh buku, penasaran. Sampe pada sebuah halaman yang menjelaskan tentang arti-arti garis tangan. Ada yang namanya Line of Life, ane cek tuh di telapak tangan kiri ane. Tapi ternyata gak punya itu yang namanya Line of Lifeee!!!!😑 itu bukunya ngaco sumpah! Masa ane hidup dan subur begini dibilang gak punya kehidupan sih?! WTP..!!! What the Puck! :nohope: mereka bertiga malah ketawa ngakak :hammer:

Untung bakso segera datang, kegalauan ane tentang garis kehidupan sedikit terobati dengan nikmatnya makan bakso :genit: tengkyu bakso :kisss pembicaraan sedikit teralihkan setelah itu.

Selesai makan kami berempat menyadari bahwa meja di foodcourt ternyata sangat kecil. Tidak mampu menampung semangat kami berempat yang meninju duniaπŸ˜€ lebay :hammer: kami pindah tempat sambil jalan. Dipilihlah Master D sebagai pelabuhannya. Espresso dan milo menjadi teman nyaman petang itu.

Buku-buku mulai keluar dari masing-masing tas dan dibarengi dengan sebuah kamera Om Rendy. Ngalor-ngidul bahas buku, nyerempet lagi masalah garis kehidupan ane :hammer: Koh Amin tuh yang paling bahagia bilang β€œati-ati ya Gas kalau balik Madiun, ente gak punya garis kehidupanβ€πŸ˜‘

Sesi potoh-potoh kami dibantu oleh seseorang yang sepertinya adalah manajer lini Master D disitu. Sepertinya juga dia ini bahagia banget bisa bantuin kami potoh-potoh :nohope: kaya gak pernah motret deh.πŸ˜€

Tepat jam 6 petang akhirnya kami menyudahi obrolan dengan swap book. Ane bawa bukunya Koh Amin β€œAnak Bajang Menggiring Angin” yang katanya favoritnya Om Hendra a.k.a NatheoπŸ˜€ Sepakat untuk lain kali bertemu kembali dalam keadaan yang gembira dan lebih ramaiπŸ˜€

Yah.. walaupun gath kali ini Cuma dihadiri empat orang, tapi sepertinya suasana ngobrolnya diprediksikan akan menyamai gath Serapium Jakarta nantiπŸ˜€ kata orang, kecil-kecil makan cabe. Eh, salah ding, kecil-kecil cabe rawit, meski kecil tetep tuit. Apa sih? :nohope:

Yowis. Sampai jumpa di Gathering selanjutnya! Salam dari pecinta buku yang jomblo😎

Regrads

binatangendut

2 thoughts on “Just Field Report Biasa

  1. hahhahahhahaha lucu ni tulisan… buku koh amin apa sih judulnya?
    ayo om tegas buru2 nikah.. kan gak punya line of life.. ntar belom nikmatin surga dunia ternyata udah….. :nohope :ngakaks

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s