Marhaban Ya Ramadhan, Marhaban Ya Kenangan.

Standar

Ada begitu banyak cerita ketika Ramadhan. Sebagai sebuah penyambutan keberkahan, saya ingin sekali menuliskan kenangan-kenangan seumur hidup saya di bulan Ramadhan. Pergilah ke dapur, buat secangkir kopi, duduklah dengan nyaman di depan layar komputer.

Sewaktu saya masih Sekolah Dasar, waktu Bapak masih ada, sholat terawih pasti dilakukan dirumah sendiri. Bapak imamnya. Tetangga kanan-kiri yang memang masih ada hubungan keluarga pada berdatangan. Teman-teman kakak saya, Mas Tegar yang juga masih Sekolah Dasar juga tumplek blek di rumah saya. Ramai. Mungkin mushola belakang rumah kalah ramai. Sholat dimulai adalah start kelucuan kami setiap terawih. Semuah jamaah dewasa yang mencoba khusyu terganggu dengan cekikikan kami anak-anak kecil yang sering injak-injakan kaki atau saling desak sambil berusaha masih dalam posisi sholat. Kalau sudah terlalu ramai, Ibu dari belakang dengan tegas mencolek kami dengan sulak (kemucing). Bukannya diam, biasanya kami malah makin puas tertawa kecil. Selesai terawih bocah-bocah kecil ini antri minta tanda tangan Bapak di buku laporan sholat yang diberikan sekolah setiap Ramadhan tiba. Saat-saat seperti itu mulai lenyap seiring perginya Bapak bersama Izroil. Terawih jadi berpindah di Masjid Kota yang terlalu ramai untuk anak kecil seperti saya.

Masuk SMP semakin beragam cerita di Ramadhan. Terawih masih di Masjid Kota. Yang beda adalah selesai terawih. Biasanya selesai terawih saya habiskan nonton tivi sambil makan makanan sisa buka puasa, pas SMP saya selesai terawih langsung berangkat ke rumah gebetan. Saya masih ingat sekali dulu untuk pertama kalinya saya memberanikan diri main ke rumah wanita, habis terawih, pakaian saya kemeja polos warna biru tua dan celana kain warna krem, naik sepeda karena belum bisa naik motor. Ponsel saya dulu Sony Ericson T.. (saya lupa tipenya) dan gebetan saya ini ponselnya Motorola (saya lupa juga tipenya). Betapa saya masih ingat karena betapa culunnya saya, walaupun sampai kuliah juga masih saja culun. Gebetan saya ini Ramadhan tahun depannya resmi jadi pacar saya. Jelek begini saya pernah pacaran. Sebenarnya pacaran di bulan selain Ramadhan itu tak baik, apalagi pas Ramadhan.

Semakin bertambah usia, semakin banyak kegiatan Ramadhan yang harus dilakukan diluar rumah. Saya merasakan betul, karena keikutsertaan saya dalam dunia organisasi di SMA. Berada dirumah adalah hal yang mahal. Kenyamanan suasana Ramadhan dirumah semakin lenyap dalam keseharian saya. Apalagi sekarang saya kuliah. Tinggal berkilo-kilo meter dari rumah tua saya. Sahur yang harus beli, buka puasa yang harus mencari menjadi pembeda yang ganas dalam kenangan kecil saya.

Saat ini adalah Ramadhan kedua saya di kota yang katanya berhati nyaman. Bersyukur sekali masih bisa dipertemukan kembali dengan bulan penuh kejutan ini. Bulan yang membatasi tapi sebenarnya mengilhami. Bulan yang mencerdaskan logika dan emosi. Bulan yang sejuk karena kita harus selalu menghirup udara pagi buta. Bulan yang melegakan karena mengharuskan kita berbuka setelah menahan lapar. Bulan yang penuh ketenangan karena kita menghirup harum sajadah lebih dari lima kali sehari. Bulan yang penuh dengan kenangan istimewa. Semoga saja masih bisa istiqomah.

Marhaban Ya Ramadhan. Apa ceritamu?

One thought on “Marhaban Ya Ramadhan, Marhaban Ya Kenangan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s