30 Jam di Surabaya.

Standar

Akhirnya, sudah saatnya saya menebus dosa setelah tidak sekalipun menyentuh keyboard untuk menulis. Kesempatan berharga ini ingin saya isi dengan sedikit pengalaman unik selama saya 30jam di Surabaya. Begini ceritanya..

Siapa yang tidak tahu Surabaya? Bahkan nama Surabaya terekspos dalam film Hollywood King Kong. Juga dalam buku-buku sejarah Indonesia bahwa Surabaya adalah kota pahlawan, kota perjuangan. 10 November adalah milik Surabaya pada khususnya dan milik Indonesia pada semangatnya. Ya, dan kemarin tanggal 24 Juni saya mencuri-curi waktu untuk melancong ke Surabaya.

Ekonomi yang sedikit tersenggal membuat saya memilih kereta ekonomi Sri Tanjung sebagai tumpangan ke Surabaya. Walaupun ekonomi, kereta ini tidak buruk juga. Toilet juga lumayan bersih. Mungkin memang saya sedang beruntung berada di gerbong yang β€œbenar”.

Singkat cerita, saya tiba di Surabaya jam 2 siang di Stasiun Gubeng. Sampai Surabaya saya langsung disambut dengan aura dinamis masyarakat Surabaya. Saya tidak tahu kalau ternyata Gubeng itu ada dua, Stasiun Gubeng Lama dan Stasiun Gubeng Baru (walaupun tempatnya cuma berhadap-hadapan). Teman saya di Surabaya yang mau jemput bertanya-tanya saya berada dimana. Mana saya tahu saya sedang berada dimana. Kerumitan ini menyebabkan saya berkeliaran di Stasiun Gubeng selama satu jam dan sendirian! Untung saya tidak dicap teroris disana, mengingat wajah saya yang brewokan dan muter-muter di Stasiun yang sama. Saya bersyukur tidak ada orang yang mencurigai saya.

Kemudian teman saya dating. Lega. Saya langsung dibawa meluncur ke kos yang berada di daerah Keputih, samping ITS. Selama perjalanan saya dibuat kagum dengan gedung-gedung tinggi disana. Mulai terlihat betapa kampungnya saya. Gedung PDAM Surabaya sukses saya tebak sebagai kampus Unair. Bodoh.

Sore di Surabaya saya habiskan dengan tidur di kos teman saya. Lelah perjalanan tidak bisa dikompromikan begitu saja ternyata. Padahal saya ingin sekali merasakan panas campur dinginnya Surabaya di sore hari. Katanya nikmat.

Baru dimalam hari saya berkeliling Kota Surabaya yang katanya Metropolitan kedua di Indonesia setelah Jakarta. Bersama teman-teman saya, saya diajak ke Jalan Basuki Rahmat yang megah. Semakin terasa β€œudik” ketika benar-benar melihat kemegahan Surabaya. Gedung tingginya, arsitekturnya, lampunya, perumahan elitnya. Keren. Saya mampir di Tugu Pahlawan. Sayang saya cuma bisa foto-foto diluar pagar, kalau malam dikunci. Bahkan teman saya membawa saya melewati jalanan Lokalisasi Dolly yang isunya adalah lokalisasi terbesar di Asia Tenggara. Saya cuma melongo saja disana, tapi terbesar kok lebar jalannya kecil ya? Mirip jalanan desa di Kampung Halaman saya di Caruban. Malam itu saya tutup dengan jalan-jalan di Taman Bungkul. Walaupun dini hari, taman itu ramai bukan main.

Rencana pagi yang akan jalan-jalan keliling kampus ITS gagal gara-gara bangun kesiangan. Alhasil saya hanya tahu ITS dari jalan mondar-mandir Keputih-Kartajaya. Hari kedua di Surabaya saya agendakan untuk menghadiri acara gathering pecinta buku KasKus di Toko Buku Togamas Petra di Pucang Anom Timur. Acara gathering yang sederhana ini cukup seru, menghilangkan panas Surabaya yang β€œpanas”. Ke-udik-an saya semakin ketahuan dalam obrolan-obrolan dengan Kaskuser Surabaya. Bodohnya saya menceritakan kekaguman saya atas kemegahan Surabaya dengan berlebihan. Sebenarnya acara gathering ini adalah tujuan utama saya ke Surabaya kali ini selain juga menjalin silaturahmi dengan kawan-kawan lama saya yang studi di Surabaya.

Sore menjelang magrib saya memutuskan untuk pulang. Perjalanan menuju terminal Surabaya – Terminal Purabaya (lebih dikenal dengan Bungurasih) – saja ternyata harus penuh perjuangan. Jaraknya yang jauh – perbatasan Surabaya-Sidoarjo – dan dilengkapi dengan kemacetan Surabaya sore hari. Siapa bilang macet cuma milik Jakarta? Orang Surabaya pasti mengamini kalimat saya ini. Panas mesin dan debu aspal benar-benar menjadi sahabat akrab selama perjalanan dari ITS ke Bungurasih.

Terminal Bungurasih adalah juga merupakan terminal angkutan darat yang paling padat. Latar belakang Surabaya sebagai Kota Industri membuat banyak kaum urban yang mengadu nasib di Surabaya. Jelas membuat lalu lalang penumpang di Bungurasih semakin meningkat tiap tahunnya.

Tepat pukul 18.30WIB akhirnya saya meninggalkan Kota Surabaya. Kota Metropolis, Kota Pahlawan, Kota Kenangan. Terima kasih kawan-kawan lama dan kawan-kawan baru. Saya pasti akan kembali kesana.

 

Foto-fotonya menyusul ya..belum saya transfer ke laptop..

7 thoughts on “30 Jam di Surabaya.

    • walah..iya tho mas?
      Yang sebelah mananya Masjid Keputih?
      Kemarin itu saya masuk gang pas depannya Masjid Keputih..

      Situ jalan sempit tapi ramai bukan main ya mas, heheπŸ˜€

      • haha.. namanya juga kompleks mahasiswa mas.. kalau liburan sudah pasti berasa seperti kota mati..πŸ˜€
        wah..deket bener seharusnya.. lain kali saya mampir ya mas? hehe..πŸ˜€

  1. Adinda Sukma Novelia

    tegas loh.. lebay kowe iki -_-
    perasaan aku biasa ae di ITS.. Basuki rahmat juga gak segitunya kaleee. wakakaka
    ngakak aku gas bacanya tadi, swearrrr!πŸ˜€
    apalagi pas bilang km pengen jalan2 muter ITS tapi kesiangan..
    koyok ITS apik2 o ae.. hahahaπŸ˜€

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s