Tuhan dan Networking.

Standar

Berapa banyak manusia di Indonesia ini yang mendapatkan pekerjaan karena mempunyai kenalan atau saudara yang mempunyai jabatan tinggi? Bahkan tidak hanya di Indonesia, tiap penjuru dunia pasti menemui adegan ini di regionalnya masing-masing. Beberapa mengistilahkan kejadian ini sebagai nepotisme. Tapi lebih banyak yang pura-pura tidak tahu apa nama dari sebuah potret laku manusia yang satu ini.

Tapi sungguh saya sedang tidak ingin membahas tentang nepotisme. Saya sadar betul kapasitas saya sebagai mahasiswa semester dua belum cukup memadai untuk berbicara nepotisme. Saya juga tidak berencana untuk mati-matian memvonis bahwa nepotisme adalah kemunafikan. Karena bahkan dalam satu perspektif saya setuju dengan tindakan nepotisme. Dalam kesederhanaan saya kali ini yang sedang duduk santai di salah satu sudut kampus tua FE UII, saya hanya ingin sedikit membagi perenungan tentang sesuatu yang jauh tidak ada hubungannya dengan nepotisme.

Saya berpendapat bahwa nepotisme sangat erat kaitannya dengan banyaknya kenalan seseorang yang dalam bahasa manajemen sering disebut dengan networking. Mustahil bila seseorang yang hanya sedikit kenalan mampu melakukan tindakan nepotisme. Memangnya artis, dikenal semua orang?

Networking atau sederhananya saya sebut saja kenalan, jelas menjadi sebuah aspek terpenting dalam perjalanan saya mengarungi kerasnya rimba kehidupan tanpa mengesampingkan aspek skill yang saya miliki. Punya skill saja tapi saya hanya kenal orang-orang biasa, 85% kelanjutannya ceritanya, saya akan menjadi orang biasa juga. Kenalan banyak tapi skill nol? Ini hanya akan mempermalukan diri saya sendiri.

Memperbanyak kenalan sudah pasti mempermudah jalan. Konkretnya ketika saya ingin sekali mendapatkan sebuah pekerjaan dan kebetulan saya punya kenalan yang tahu betul kredibilitas saya dan kenalan tersebut mampu membantu saya untuk mendapatkan pekerjaan itu, jadilah saya bekerja.

Dalam sebuah kesempatan Billy Boen – seorang eksekutif muda – pernah berujar, β€œTidak penting siapa dirimu. Yang penting adalah siapa yang mengetahui dirimu.” Masih adakah yang tidak setuju kalau kenalan adalah salah satu amunisi penting untuk menjalani perang kehidupan? Bukan saya.

Beberapa kali perenungan, saya menemukan sesuatu.

Bukankah ini tidak jauh beda dengan konsep hubungan manusia dengan Tuhan? Betapa mudahnya hidup saya apabila saya kenal Tuhan dan Tuhan juga kenal saya? Sekali lagi, bukankah teori networking yang selama ini selalu disebutkan dalam kelas-kelas ternyata juga berlaku dalam konsep hubungan manusia ke Tuhan?

Dan karena kekuasaan Tuhan Yang Maha Luas, kenal dengan Tuhan menjadi sesuatu yang diatas kepentingan yang lain. Karena Maha Luas, kemudahan tidak hanya seputar problema duniawi tapi nyelonong sampai ke sudut-sudut nurani yang tak terjamah apabila kita bicara networking di dalam kelas. Akan menjadi mudah apabila seharusnya sulit. Akan menjadi nyaman apabila seharusnya gelisah.

Posisi saya sebagai seorang mahasiswa yang kemudian memunculkan sebuah pertanyaan lagi. Lalu bagaimana caranya saya kenal Tuhan dan Tuhan kenal saya? Sholat? Mengaji? Sedekah? Atau yang bagaimana? Dan bagaimana kalau ternyata cuma saya yang kenal sama Tuhan tapi Tuhan tidak kenal saya? Apa nanti saya dicap sok kenal sama Tuhan?

Rentetan pertanyaan yang wajib saya temukan jawabannya dikemudian hari. Semoga memang saya ditakdirkan untuk menemukan jawabannya. Tapi yang jelas, seharusnya konsep networking Β­yang didengung-dengungkan dosen ditambah satu sub bab lagi. Yakni tentang networking dengan Tuhan.

Bagaimana dengan pembaca?

sumber gambar:Β http://bajansunonline.com/expanding-your-career-optionssocialbizz-business-social-networking/Β danΒ http://paper.li/CSolutions/christianitytweets/2011/01/26

6 thoughts on “Tuhan dan Networking.

  1. 2 kenikmatan bagi orang muslim itu adalah ketika berbuka puasa, dan saat melihat Alloh Swt kelak.
    ramadhan nanti kesolo aja insy ada pengalaman spiritual, semoga sesuai yang dikau maksud.

    Tapi kalo kalo pengennya melihat kehadiran-Nya secara nyata didunia…sudah banyak yang begitu.
    ni dari al baqarah 55
    Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: “Hai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan terang”, karena itu kamu disambar halilintar, sedang kamu menyaksikannya.
    yang ini annisa’ 153.
    Ahli Kitab meminta kepadamu agar kamu menurunkan kepada mereka sebuah Kitab dari langit. Maka sesungguhnya mereka telah meminta kepada Musa yang lebih besar dari itu. Mereka berkata: “Perlihatkanlah Allah kepada kami dengan nyata”. Maka mereka disambar petir karena kedzalimannya, dan mereka menyembah anak sapi, sesudah datang kepada mereka bukti-bukti yang nyata, lalu Kami maafkan (mereka) dari yang demikian. Dan telah Kami berikan kepada Musa keterangan yang nyata.

    • Ada apakah di Solo?

      Saya kira, kita beda pemahaman dalam mengartikan kehadiran Tuhan secara nyata di dunia. Itu dangkal sekali saya kira kalau menginginkan Tuhan hadir secara fisik.

      Seperti yang sudah saya katakan, perlunya ada pengalaman spiritual untuk benar-benar mengenal dan merasakan kehadiran Tuhan.

      Spiritual. Bukan yang lain.πŸ˜€

    • piye carane nge-tag ya kalau di blog? perasaan gak ada deh. Kamu subcribe aja blog ini, langganan RSSπŸ˜€

      haha..
      monggo main saja.
      untuk masalah makanan jelas tidak sebanyak kalau di madiun, disini serba terbatas, hehe.

  2. Dengan membaca sebuah buku, kita bisa menebak-nebak kira2 bgmnkah pengarangnya..
    Nah, Nabi Saw memperoleh wahyu al-quran yg kemudian dituliskan oleh para sahabatnya kedalam mushaf al-qur’an yg biasa kita sebut kitab suci al-quran. Kenapa suci, karena Al-Qur’an itu Alloh Swt sendiri yg berjanji menjaganya.:D. kata kunci “allah menjaga al quran” search by google dulu.

    Dengan membaca pasti akan mengenal insy., bahkan ada satu surat dimana Allah menjelaskan siapa diri-Nya, coba anda lihat Al-Qur’an surat Maryam – 65. sekalian tafsirnya. nanti kalo sudah replay juga boleh.πŸ˜€. salam kenal..

    • menarik sekaliπŸ˜€

      tapi kalau hanya diberikan bukti-bukti fisik tersebut saya kira kurang bisa dijadikan rujukan. Itu seperti halnya kita mengenal teman sekelas kita hanya dari daftar absennya, tapi belum ada interaksi emosional didalamnya.

      Yang saya maksud mengenal Tuhan disini adalah merasakan kehadirannya secara nyata dalam kehidupan bukan dalam teks atau cerita.

      Jadi, In My Humble Opinion, perlu adanya pengalaman spiritual agar bisa dikatakan mengenal Tuhan.

      CMIIWπŸ˜€

      Salken juga :shakehand

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s