Pesan dari 10 Maret.

Standar

Seminggu yang lalu, 10 Maret, saya mengenang kembali bagaimana Ibu saya berusaha membuat saya merasakan dunia. Merasakan apa disebut dengan bernafas. Ketika itu, Ibu berusia 40 tahun. Pasti berat sekali perjuangan kala itu.

Tidak. Saya tidak akan membahas bagaimana sedih, keringat, perjuangan Ibu ketika melahirkan saya. Bahasan itu sudah pernah saya bahas dalam tulisan saya yang lain. Saya ingin sedikit beropini tentang reaksi teman-teman saya terhadap 10 Maret saya. Reaksi yang aneh. Yang (mungkin) mencerminkan budaya Indonesia yang paling mutakhir.

Seharian itu (10 Maret), setiap bertemu dengan teman-teman, saya selalu ditodong dengan kalimat seperti ini, β€œGas, mana traktiranya?”. Dan ya memang hanya kalimat seperti itu yang keluar. Hanya itu. Tidak ada kado, tidak ada hadiah. Tidak ada tambahan lain. Kalaupun ada, sekedar ucapan selamat ulang tahun. Itu pun hanya beberapa orang tertentu.

Saya tidak mempermasalahkan apa yang mereka beri kepada saya. Saya pun sudah mulai untuk tidak merayakan hari kelahiran saya secara hedon. Yang menjadi problem utama disini adalah refleksi dari tindakan-tindakan tersebut. Sederhananya, belum memberi apapun tapi sudah niat meminta.

Menurut kawan-kawan pembaca, bagaimana bila belum memberi apapun tapi sudah berkoar-koar meminta sesuatu? Saya yakin kita akan menghadirkan mindset yang seragam tentang hal ini. Bahkan tak perlu saya katakan, kawan-kawan sudah pasti bisa menebak dengan luar biasa benar. Right?

Yang saya takutkan disini, apa iya telah diresmikan budaya baru di Indonesia? Apa iya bangsa yang berkali-kali disebutkan dalam Great Soviet Encyclopedia sebagai akar budaya sebagian besar dunia telah mempunyai budaya baru yang (menurut saya) memalukan? Budaya meminta tanpa berpikir untuk memberi terlebih dahulu.

Saya sungguh takut bila ini memang benar-benar terjadi. Indonesia yang satu dekade ini sudah banyak terpuruk, akankah terpuruk lagi dengan budaya pengemis ini? Mungkin ada benarnya apa yang dikatakan oleh Radhar Panca Dahana dalam bukunya β€œInikah Kita: Mozaik Manusia Indonesia” bahwa bangsa kita adalah bangsa yang mendadak menjadi bangsa yang konsumtif, bangsa tumpul. Lebih lanjut dikatakan bahwa penduduk Indonesia terlalu mudah untuk menerima budaya-budaya baru yang sengaja masuk dalam kehidupan berbangsa kita. Salah satunya adalah gampangnya kita disuapi budaya kapitalisme, hedonisme.

Saya sangat ingin kawan-kawan semua mempunyai rasa takut yang sama dengan saya. Rasa takut akan lebih terpuruknya Indonesia bila generasi mudanya hanyut dalam gerus budaya baru, budaya pengemis. Yang membuat kita tidak terlatih untuk selalu berusaha memberi terlebih dahulu. Berusaha menciptakan sesuatu untuk didedikasikan bagi keberlangsungan kehidupan yang lebih baik. Jangan hanya meminta, mangap untuk sekedar disuapi nasi aking.

Apa iya pemuda Indonesia tidak mampu membangun peradaban yang lebih bermatabat?

Apa jawaban kita?

 

Sumber gambar:Β http://hakimbabels.blogspot.com

4 thoughts on “Pesan dari 10 Maret.

  1. mabruri sirampog

    milad ni,,,, met milad sobat,,,
    bukan masalah panjang or pendeknya umur, tpi apa yang sebenarnya kita hrs lakukan di panjang or pendeknya umur kita…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s