Jalannya Memang Sangat Pelan.

Standar

Suasana waktu itu riuh sekali oleh suara gitar dan kendang pengamen. Jalanan Kota Sragen terlihat tidak jauh beda dengan riak di dalam bis Sumber Kencono yang saya tumpangi. Saya duduk sedikit di depan atau dua kursi dari kursinya Pak Supir. Saya sedang dalam perjalanan dari kampung halaman menuju kota tempat saya mengais ilmu, Yogyakarta.

Sepanjang perjalanan saya manfaatkan untuk memejamkan mata. Semalaman baru saja berdialog dengan kakak pertama saya. Tidur larut malam memang membuat badan terasa begitu lelah. Dan baru di Kota Sragen inilah saya terjaga. Para pengamenlah yang sukses membangunkan tidur saya. Saya harus berterimakasih kepada pengamen yang membangunkan saya. Karena terbangunlah, inspirasi mendadak hadir oleh sesosok penumpang yang kebetulan turun di Kota Sragen.

Penumpang itu adalah seorang ibu. Mungkin nenek. Bahkan mungkin juga nenek buyut. Ya, ibu itu sepertinya memang sudah sangat tua. Dilihat dari wajah, kulit sampai pilihan fashion mengindikasikan kalau ibu ini sangat pantas dipanggil nenek. Ibu seperti itu, sering saya temui di pedesaan di tempat bude saya. Dan mereka sudah bercucu, cucunya sudah beranak. Tua sekali, bukan?

Ibu itu atau nenek itu –selanjutnya saya panggil ibu saja –berjalan dari belakang bis ke depan. Melewati para pengamen yang memang selalu memainkan musiknya di tengah-tengah bis. Suara kendang sempat berhenti sejenak karena adanya ibu ini. Kemudian berbunyi lagi. Kalau saya tidak salah ingat, lagu yang sedang dimainkan saat itu adalah lagu dangdut judulnya β€œCuma Kamu” –lagu wajib para pengamen Kota Solo.

Seperti yang sudah saya bilang tadi, bahwa ibu ini sudah sangat tua. Umur yang tidak bisa lagi dibilang muda membuat kecepatan berjalan ibu ini sungguh pelan. Kalau dituangkan dalam angka, mungkin 1,5 km/jam. Ketika bis berhenti untuk menurunkan ibu ini, durasi waktu yang diperlukan untuk menurunkan seorang penumpang tidak seperti biasanya. Terasa sekali hang time-nya.

Ada hal yang tiba-tiba saya tangkap.

Bukankah setiap kita nantinya akan seperti ibu itu? Wajah dan kulit kita akan menua, kan? Mungkin disaat tuanya kita, pilihan fashion kita juga akan dianggap kuno dan menjadi ciri khas para manula. Dan jelas, kita akan menemukan bahwa kecepatan berjalan kita hanya 1,5 km/jam. Kita akan tua dan betapa dekatnya kita dengan kematian saat itu.

Berulang kali saya katakan, bahwa Tuhan pun tak mampu menjinakkan waktu. Saya yakin ibu itu merasa baru beberapa waktu lalu dia merasakan muda. Tapi sekarang dia harus berjalan pelan sendirian melewati pengamen di dalam bis dan turun dengan memberi dampak hang time kepada penumpang yang lain, termasuk saya.

Ibu itu boleh tua dan berjalan sangat pelan. Saya juga pasti akan menua dan menjadi sangat pelan, serupa dengan ibu itu. Kita semakin hari semakin pelan. Menjadi serba pelan. Tapi waktu? Waktu akan selalu konsisten dengan kecepatannya yang memang cepat. Akan istiqomah sampai selesai menjalankan tugasnya, mengantarkan kita pada apa yang kita sebut dengan kematian.

Dan bis pun meninggalkan ibu tua itu, meninggalkan Kota Sragen menuju Yogya yang berhati nyaman.

 

One thought on “Jalannya Memang Sangat Pelan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s