Habibie & Ainun

Standar

Judul                : Habibie & Ainun

Penulis             : Bacharuddin Jusuf Habibie

Penerbit          : PT THC Mandiri

Terbit               : Cetakan kedua Desember 2010

Jml Halaman     : xi + 323

Bacharuddin Jusuf Habibie atau yang lebih akrab kita kenal sebagai B.J. Habibie. Sebagai seorang pelaku sains, menulis buku yang tidak ada kaitannya dengan sains sama sekali mungkin adalah hal yang sangat dihindari. Tapi sepertinya itu tidak berlaku untuk B.J. Habibie. Terbukti, buku keduanya yang berjudul “Habibie & Ainun” telah di-release pada akhir tahun 2010—beberapa bulan setelah kepergian Istri tercintanya ke dimensi barzah, Mei 2010.

Buku yang bersampul foto sewaktu Habibie dan Ainun muda ini tidak hanya berisikan kisah romantis pasangan Habibie dan Ainun namun juga memuat sejarah Negara Indonesia dalam kurun waktu 40 tahun terakhir dalam sudut pandang seorang B.J. Habibie.

Cerita buku diawali dengan proses pertemuan Habibie dengan Ainun di rumah keluarga Besari—keluarga Ainun—di Bandung. Sebagai seorang scientist yang menjunjung tinggi kedetailan, Habibie menceritakan pertemuan itu dengan sangat detail. Bahkan Habibie juga menuliskan sudut pandang Ainun mengenai pertemuan itu—Habibie menulis ulang beberapa paragraf dari buku “Setengah Abad Prof. Dr.-Ing. B.J. Habibie; Kesan & Kenangan”. Sehingga, seakan-akan pembaca diajak berpergian ke tahun 1962 oleh Habibie. Pembaca merasa hadir secara nyata di rumah keluarga Besari.

Bagaimana akhirnya mereka memutuskan untuk segera menikah dan melanjutkan kehidupan baru di Jerman diceritakan tidak kalah hidup oleh Habibie dalam bab-bab berikutnya. Sebagai keluarga baru di ranah rantau dan dengan penghasilan yang pas-pasan membuat pasangan ini memilih untuk hidup prihatin. Sederhana dan seadanya. Yang unik adalah ketika penghasilan Habibie semakin meningkat dan mampu membeli sebuah mobil, B.J. Habibie tetap saja memilih naik bis atau bersepeda menuju tempatnya bekerja kadang malah memilih untuk berjalan kaki.

Semakin tingginya prestasi Habibie di Jerman terdengar sampai ke telinga Presiden Indonesia kala itu, Bapak Soeharto. Maka diutuslah Bapak Ibnu Sutowo—Dirut Pertamina saat itu—ke Jerman untuk menyampaikan pesan kepada Habibie bahwa Saudara Habibie diperkenankan bertemu dengan Presiden Soeharto di Indonesia. Bermula dari peristiwa itulah, B.J. Habibie diminta secara khusus oleh Presiden Indonesia untuk turut bersama-sama membangun Negara Indonesia menjadi lebih maju dan karena sewaktu masih menyandang status mahasiswa Habibie pernah bersumpah untuk ikut andil dalam pembangunan Tanah Air, Habibie menerima permintaan itu dengan penuh tanggung jawab.

Seperti yang telah saya tulis di paragraf awal bahwa buku ini tidak hanya bercerita tentang kisah romantis pasangan Habibie-Ainun. Fase-fase pertengahan buku lebih banyak menceritakan perkembangan Indonesia pada waktu itu khususnya dalam hal teknologi. Puncaknya, Habibie menceritakan bagaimana akhirnya Bangsa Indonesia melek teknologi pada tahun 1995. Bahkan 10 Agustus 1995 diperingati sebagai Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas). Saat itu ditandai dengan penerbangan perdana pesawat N-250 Gatotkaca yang direkayasa dan dibuat oleh putra-putri Indonesia secara mandiri. Sayang, pesawat itu kemudian dihentikan produksinya pada 1998 atas desakan IMF karena Indonesia memutuskan untuk berhutang. Habibie menuliskan penyesalannya atas hal ini.

Buku ditutup dengan kisah perjuangan Habibie mendampingi Istrinya, Ainun, yang sedang mengalami sakit parah. Saya yakin, menulis bab-bab ini adalah penulisan sarat emosi oleh Habibie. Bahkan emosi itu sanggup menular dengan hanya membaca tulisannya. Dan sekali lagi, Habibie menghadirkan kedetailan yang hebat dalam bab ini.

Banyaknya tanda baca yang keliru menjadi salah satu kekurangan yang nampak dari buku ini. Kemudian, seharusnya buku ini bisa lebih booming apabila dilengkapi dengan foto-foto B.J. Habibie dan Ainun.

Buku ini sangat cocok untuk mereka yang sangat menggemari sejarah. Juga pas untuk mereka pengantin baru, karena dalam buku ini penuh contoh bagaimana suami-istri dapat saling berkomunikasi dengan sangat baik dan sarat cinta sampai salah satu dari mereka dijemput Izroil. Karena bahasanya yang baku dan mature, saya rasa mereka yang dibawah umur belum bisa untuk mencerna buku ini.

Terakhir, saya merekomendasikan kepada anda untuk membaca buku ini. Agar anda lebih mengenal B.J. Habibie, anda lebih mengenal Indonesia dan anda lebih bisa belajar untuk peka terhadap pasangan hidup anda.

8 thoughts on “Habibie & Ainun

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s