Rumah Kayu Menjelang Lebaran.

Standar

Oke, kali ini saya ingin sedikit bercerita tentang perjalanan saya sehari sebelum Hari Raya Idul Adha. Perjalanan saya ‘menculik’ kambing di sebuah desa di Kecamatan sebelah. Kenapa saya tulis ‘menculik’? Karena Ibu saya tidak bayar penuh untuk memboyong kambing tidak berdosa itu ke masjid. Semacam pembayaran hutang uang yang dialihkan menjadi seekor kambing.

Sebenarnya saya tidak baru pertama ini berkunjung ke desa yang benar-benar desa ini. Sudah beberapa kali saya menemani Ibu berbisnis di desa bernama Kedung Banteng ini. Tapi untuk pertama kalinya saya sadar sesuatu yang unik di desa itu. Hampir semua rumah yang ada, terbuat dari kayu. Kalaupun ada unsur tembok, paling cuma bagian depan saja, samping sampai belakang tetap kayu. Atau cuma tiang saja yang berbahan semen. Menurut saya ini unik sekali, karena desa ini sebenarnya juga tidak terlalu jauh dari pusat keramaian dan lumayan banyak kendaraan bermotor yang lalu-lalang di sini.

“Buk, rumah-rumahnya kok kayu semua ya?”

“Kan kayu di sini gratis, nak!”, jawab Ibu lempeng. Pasti Ibu sedang bercanda pikir saya.

Mana ada jaman sekarang kayu yang gratis? Kayu kan makin langka gara-gara pembangunan yang brutal dan pemberian ijin ngawur oleh pejabat kehutanan untuk membuka hutan. Saya sungguh penasaran, apalagi ditambah jawaban Ibu yang se-kena-nya. Kok masih ada ya seluruh desa yang anti-tembok begini? Desa yang sederhana.

Saya berniat tanya ke kepala desa, tapi saya urungkan. Karena saya tidak tahu nama kepala desanya, apalagi rumahnya. Mau tanya ke warga takut nanti penduduk tersinggung dibilang anti-tembok. Sudah tanya ke Ibu, cuma dapat ke-sok tahu-an Ibu. Tanya diri sendiri, saya tahu apa? Kan saya yang bertanya?

Hingga tulisan ini diterbitkan, saya masih bertanya-tanya dalam hati. Kok masih ada desa sesederhana itu. Mungkin kemudian saya akan memutuskan untuk menyimpan pertanyaan ini. Sengaja agar tidak terjawab. Biar kesederhanaan orang-orang di desa itu tetap menjadi misteri. Biar saya tetap berusaha menjadi sederhana dengan cara saya sendiri. Tidak mencontek cara orang lain. Dan biar saya tetap ingat bahwa Indonesia ini terlalu kaya akan sumber daya hutan. Sampai-sampai sebuah desa tidak jauh dari pusat keramaian Kecamatan Pilangkenceng masih disesaki rumah kayu yang benar-benar full kayu.

Anyway, hari itu proses penculikan kambing sukses dilakukan. Saya membawa sebuah kambing tidak kecil tapi juga tidak bisa dibilang besar berwarna coklat muda campur putih hitam di beberapa bagian tubuhnya. Keponakan saya berumur 2tahun yang kebetulan juga ikut ternyata sangat takut melihat kambing. Mungkin dia berpikir, “Itu manusia kok bulunya banyak ya? Kok gak capek ya merangkak terus? Kok mukanya panjang ya?”. Itu jelas horor sekali. Kambingnya kemudian diserahkan kepada Panitia Qurban Masjid Gede Al-Arifiyah agar besoknya pas Hari Raya Idul Adha dia disembelih dengan baik dan benar.

Selamat merasakan nikmatnya semangat berbagi! (Hari Raya Idul Adha)

2 thoughts on “Rumah Kayu Menjelang Lebaran.

  1. hhhahaha warganya pada takut gempa mas, kan konon kalau pake kontruksi kayu, rumah jadi bisa mengikuti pergerakan muka bumi, dan akhirnya rumah tidak mudah roboh. Beda dengan tembok, dia tidak mengikuti aliran gelombang ( hhe mungkin sih ):)

    • hehe, bisa jadi sih begitu.

      tapi yang jadi masalah adalah, di daerah itu sangat jarang sekali ada gempa bumi. soalnya jauh dari gunung berapi aktif maupun deretan lempeng tektonik bumi. se-paranoid itukah penduduk desanya? hehe. Biar jadi misteri saja lah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s