Bukan Ayah Yang Masih Hidup, Tapi Pesannya.

Standar

12 September lalu, tepat sepuluh tahun sudah Ayah berkenalan dengan Izroil. Sepuluh tahun juga, saya resmi berbicara dengan sosok lelaki tua itu hanya dalam sudut-sudut kepala. Jumlah kenangan yang saya punya bersamanya memang tak sebanyak kakak-kakak saya. Tapi sungguh saya masih ingat senyum khasnya, cara berjalannya dan wibawanya. Apalagi momen-momen yang memang sengaja Ayah ciptakan untuk anak-anaknya. Saya benar-benar tak mau melupakannya.

Setiap kita pasti menganggap lelaki tua di rumah kita adalah seorang Ayah yang hebat. Dan begitulah saya. Just like you, dalam presepsi saya dia adalah sosok teladan setelah Rasul. Dia adalah manusia dengan sejuta cerita heroik yang memang tak semua orang mengalami kisah-kisahnya. Dialah yang mengajarkan anak-anaknya bahwa hidup bukanlah sekedar diam, pasrah dengan nasib. Dia adalah Ayah yang membisikkan dalam nurani anak-anaknya bagaimana menjadi hebat tapi tetap bermanfaat. Ya, Imam Supa’at memang Ayah yang luar biasa. Kesalahan Ayah cuma satu, dia terlalu cepat akrab dengan Izroil.

Seorang teman di Ciledug pernah berkata,

β€œSekarang Ayah pasti bangga melihat anaknya bisa bermanfaat buat orang lain. Pasti tak khawatir lagi karena anaknya udah bisa jagain Ibu yang ditinggalnya”

Kalimat itu terkesan menjadikan semuanya seperti baik-baik saja. Tapi dari kalimat itulah, muncul pertanyaan-pertanyaan yang kemudian membuat saya bingung untuk menjawabnya. Seperti pertanyaan,

β€œApakah iya, Ayah bangga?”

β€œApakah benar, Ayah menganggap saya sudah bermanfaat untuk orang lain?”

β€œSangat percayakah Ayah, sampai tak lagi khawatir?”

Lihat saja. Bagaimanakah saya harus menjawab pertanyaan-pertanyaan itu? Mana mungkin saya tahu keadaan Ayah sekarang? Coba saja kalau Munkar dan Nakir membocorkan nomor handphonenya. Saya pasti tau lebih banyak tentang bagaimana Ayah sekarang.

Satu lagi pertanyaan yang tak hanya membuat saya bingung menjawabnya. Pertanyaan ini bahkan seperti menghakimi saya sebagai seorang anak yang tak jarang masih memelihara keegoisannya. Tapi in other side, pertanyaan kali ini sangat berjasa sekali dalam memberi saya sebuah pelajaran. Bahwa ternyata, seorang anak harus selalu memperbaiki kualitas berbaktinya pada orang tua. Pertanyaan itu adalah,

β€œBenarkah menurut Ayah, sekarang Ibu sudah merasa dijaga oleh anaknya?”

Ternyata setelah sepuluh tahun kepergian Ayah. Masih sangat banyak hal yang harus saya jawab. Harus saya buktikan. Masih begitu banyak persoalan-persoalan keluarga yang perlu dicari jalan keluarnya. Sungguh ternyata memang sulit sekali hidup ini. Tapi bukankah dari dulu memang seperti inilah kehidupan? Kalau kita diam saja, tak berbuat apa-apa, tak berusaha merubah sesuatu. Apakah hidup akan berubah lunak? Tidak kan?

Disitulah ternyata pelajaran-pelajaran yang diberikan Ayah sungguh berperan. Thank you, Dad! Dan akan saya tunjukan kepada siapapun yang mengaku sebagai cucu Adam, The Best of Me!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s