Aku Memanggilnya Ibu.

Standar

Suatu waktu, setelah aku sudah sanggup berpikir, berkata-kata dan mendengar. Ibu sengaja bercerita kepadaku, di teras belakang rumah, tentang bagaimana rumitnya melahirkan tubuhku ini. Dari mengandung yang melebihi standar – 10  bulan lebih dalam kandungan – , lama menunggu Ayah meminjam mobil “tetangga” saat sedang hampir melahirkan, sampai harus mencuci usus gara-gara si jahitan lepas. Dan, 40 tahun adalah umur Ibu ketika berjuang mengeluarkan anak bernama asli Tegas Imam Ramadhan ini dari dalam rahimnya. Masih belum aku temukan cerita persalinan semiris itu, sepanjang aku mengenal banyak manusia.

Cerita Ibu, aku lahir di bulan Ramadhan. Itulah kenapa ada tulisan Ramadhan di belakang nama panggilanku. Aku dan kakak-kakakku sudah sangat setuju bahwa Ibu adalah bukan orang yang puitis, tapi entah ilham dari mana – sudah aku tanyakan beberapa kali, jawabannya selalu “gak roh, le (tidak tahu, nak – red.)” – namaku (Tegas) dan kakakku yang ke-tiga (Tegar), mengisyaratkan bahwa Ibu harus Tegar dan Tegas dalam menjalani kehidupan ini. Terutama setelah pada September 2000, Ibu harus ditinggal Ayah yang kencan dengan sang Izroil. Saat itu Mbak Titis (kakak pertamaku) masih kuliah, begitu juga Mbak Reni (kakak keduaku). Mas Tegar masih kelas 6 SD dan aku kelas 3 SD.

Ibu sendirian mendampingi keempat anaknya itu, sendirian! Dan setelah 10 tahun kepergian Ayah, Ibu telah sukses menjadikan sarjana kedua kakak perempuanku – Mas Tegar Insya Allah sebentar lagi – sekaligus menikahkan keduanya hingga saat ini punya 3 cucu yang lucu dan pinternya Subhanallah.. (Numuw, Aqwa, Maja). Alhamdulillah. Aku? Aku masih akan memulai kuliah, so far.

Dan saat-saat ini, aku mulai bisa mendampingi Ibu mengais rupiah di kota-kota panas dan jalanan aspal yang penuh debu polusi. Kurasakan benar bagaimana sulitnya membahagiakan keluarga, apalagi untuk seorang janda tua seperti Ibu. Kurasakan benar panas matahari begitu menyengat di riuhnya Pasar Klewer dan Pasar Gede Solo atau suhu dalam mobil “gerobak” tipe Suzuki Zebra yang membuat kulit seperti siap dihidangkan atau debu-debu jamu yang menusuk-nusuk kedua lubang hidung. Semua penderitaan itu hanya untuk membuat anak-anaknya bahagia, sekali lagi, hanya agar anak-anaknya bahagia! Aku jadi sangat eman ketika harus mengeluarkan uang untuk sesuatu yang tidak begitu penting.

Banyak orang tak percaya, termasuk aku, dengan apa yang dialami Ibu. Dari perawan sampai sekarang, sudah mulai menjadi seorang nenek. Tapi inilah cerita, perjalanan, sejarah, kenangan Ibu yang mengagumkan. Sebuah sandiwara hebat dari Tuhan yang diselipkan dalam kisah kehidupan semua manusia bernama Ibu. Sekali waktu kamu harus mendengar cerita Ibumu, kawan-kawan. Cukup dimulai dengan bersantai di teras rumah saat sore mulai mencium bumi, ditemani dengan makanan kecil dan segelas teh panas. Lalu, biarkan Ibu bertutur kepadamu tentang buasnya dunia.

Aku bangga memanggilnya Ibu. Aku bangga memeluknya di keramaian pasar. Aku bangga kadang bisa membuatnya tertawa atau cuma tersenyum, aku benar-benar bahagia! Dan menyesal sekali kadang membuatnya kecewa.

Tuhan, titip Ibu kemanapun kakinya melangkah dan kemanapun niat membawanya pergi. Aku percaya Kau, Tuhan. Kau tahu, kawan-kawan? Kau akan merindukan saat-saat bersama ibumu, sebentar lagi!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s