Filosofi Shaf Sholat: Bagaimana Keadaan Shafmu?

Standar

Kepergian saya ke Surabaya di sepuluh hari terkahir Ramadhan 1432H untuk mengikuti dauroh di STAI Ali bin Abi Thalib memang membawa banyak pengetahuan baru bagi saya. Ada sangat banyak hal yang ternyata saya tidak tahu atau sudah tahu tapi saya anggap enteng. Kemudian dengan imajinasi saya yang sedikit liar, saya hubungkan hal baru itu dengan sesuatu yang entah memang pantas dihubungkan atau tidak. Seperti ini salah satunya………

Sebelum mengikuti dauroh, ketika sholat di masjid, shaf adalah hal kesekian yang dipikirkan. Pentingnya adalah pakaian rapi, sajadah empuk dan sudah mandi. Shaf satu garis sudah cukup, tanpa perlu rapat kaki. Alhasil shaf sholat berantakan. Di kampung saya, yang menjadi indikator rapatnya shaf bukan rapatnya kaki dengan kaki, tapi rapatnya sajadah. Mungkin di kampung kawan-kawan juga begitu ya?

Beda halnya dengan ketika saya mengikuti dauroh ini. Semua jamaah tidak ada satupun yang membawa sajadah. Setelah saya tanyakan kepada ustadz, ternyata alasannya untuk menghindari tidak rapatnya shaf. Rapatnya shaf sangat penting untuk menjaga kualitas sholat jamaah. Kualitas sholat jamaah di kampung saya berapa dong? Mengerikan sekali.

Mungkin MUI perlu mempertimbangkan kembali keberadaan sajadah di masyarakat Indonesia deh.

Kemudian hal ini saya hubungkan dengan masalah mental, semangat dan persatuan bangsa Indonesia. Walaupun tanpa sebuah penelitian ilmiah, saya yakin, lebih dari 80% penduduk Indonesia menggunakan sajadah ketika sholat berjamaah dan lebih dari ¾-nya menjadikan sajadah sebagai indikator kerapatan shaf. Saya berani taruhan kebenaran asumsi saya. Berarti mungkin lebih dari 100juta jiwa di Indonesia yang beragama Islam, ketika sholat berjamaah, shafnya berantakan atau bahkan tidak sholat. Hhh..

Padahal menurut analisis saya, kerapian shaf sholat mengajarkan banyak hal. Mau tahu? Ini versi saya ya, mungkin kawan-kawan bisa menambahkannya lagi menurut selera kawan-kawan.

  1. Ajaran Islam untuk berlomba-lomba mencari shaf terdepan mengajarkan kepada kita bahwa sebagai seorang muslim kita wajib berusaha menjadi yang terbaik, menjadi yang terdepan, yang nomor wahid. Setuju?
  2. Ketika shaf rapat, maka akumulasi ruang kosong antar jamaah bisa diisi oleh jamaah lain di belakangnya. Ini mengajarkan bahwa sebagai muslim kita wajib memberikan kesempatan kepada muslim yang lain untuk sama-sama maju menjadi yang terdepan.
  3. Rapatnya shaf juga memudahkan sesama muslim untuk saling kenal, akrab. Silaturahim harus selalu terjaga.
  4. Kerapian atau kelurusan shaf dari ujung ke ujung mengajarkan bahwa seorang muslim seyogyanya satu visi dengan muslim yang lain. Dalam sholat visinya adalah menyempurnakan kualitas sholat berjamaah, visi dalam kehidupan juga harus selaras antar sesama muslim. Yakni berjihad fisabilillah.

Sejauh masih hanya itu yang saya temukan filosofi dari kerapian shaf sholat. Kawan-kawan ada yang mau menambahi?

Bayangkan saja, bagaimana keadaan shaf di masjid-masjid kampung di Indonesia? Kemudian bagaimana nasib jamaahnya yang tidak paham filosofi kerapian shaf dalam sholat? Mental mereka, semangat mereka sebagai seorang muslim untuk menjadi yang terbaik? Kepedulian mereka kepada sesama muslim? Rasa persatuan, rasa se-satu tujuan sebagai seorang muslim Indonesia? Bagaimana nasibnya?

Mungkin ini memang hal sepele dan bagi kebanyakan orang dianggap sebagai sebuah roti basi yang tidak perlu untuk dipandang lama-lama. Tapi bagi saya ini adalah seperti keinginan kencing kita yang sepele juga, tapi ternyata pentingnya bukan main. Menurut saya ini adalah masalah Indonesia yang juga perlu untuk mendapat perhatian.

Sekali lagi, mungkin MUI perlu mempertimbangkan keberadaan sajadah di Negeri Indonesia. Perlu juga memberikan informasi bahwa kerapian shaf adalah sepele yang penting.

Bagaimana pendapat kawan-kawan?

Ramadhan tahun depan Insya Allah saya berniat mengikuti dauroh lagi, ada yang pengen ikut? Hehe.

4 thoughts on “Filosofi Shaf Sholat: Bagaimana Keadaan Shafmu?

  1. kog gak mampir mas??
    alhamdulillah klo d kampungku biasanya rapat sampe jari kelingking ketemu kjari kelingking..
    banyak memang mas yang masih belum paham, padahal sebelum takbir imam selalu mengatakan
    agar merapatkan shaf dan meluruskan..

    • tegas

      walah..emang kampungnya dimana mas? :D
      iya nih mas, padahal shaf adalah salah satu yg penting dalam kesempurnaan sholat. hal ini kurang mendapat perhatian oleh para ulama :(

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s